Kita sering menjalani hidup seperti waktu adalah sesuatu hal yang bisa ditunda, dibelokkan atau dinegosiasikan. Padahal, setiap pagi bukan hanya permulaan hari, melainkan pengingat bahwa kita sedang menuju akhir dan itu perlahan tapi pasti. Hidup bukan sekadar detak jantung, tapi keberanian untuk menghitung setiap detik dengan kesadaran bahwa ini tak akan pernah kembali.
Kita berkata “besok saja”, seakan besok adalah milik kita. Tapi adakah yang benar-benar menghargai waktunya? Siapa yang menilai satu hari seperti menilai harta terakhirnya? Seneca pernah menuliskan surat untuk Lucilius: “What man can you show me who places any value on his time, who reckons the worth of each day, who understands that he is dying daily?”. Hal ini sebagai pengingat bahwa, mungkin hanya segelintir yang tahu akan hidup jika mereka sedang sekarat setiap harinya.
Jalan Paseban, RT.006 RW.000 Kelurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
0274 2250097 / +6287834929456
Senin - Jumat
09.00 - 16.00 WIB
office@lbhtentrem.or.id
lbh.tentrem@gmail.com